Senin, 15 Juni 2015

Resum Wacana Bahasa Indonesia



HAKIKAT WACANA
Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)
1.      Pengertian wacana
Wacana merupakan wujud komunikasi verbal. Dari segi bentuk bahasa yang dipakai wacana terbagi dua, yakni wacana lisan dan wacana tulis
2.      Ciri-ciri wacana
-          Satuan gramatikal
-          Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap
-          Untaian kalimat-kalimat
-          Memiliki hubungan proposisi
-          Memiliki hubungan koherensi
-          Memiliki hubungan kohesi
-          Medium bisa lisan maupun tulis.
3.      Jenis-jenis wacana
a.       Wacana narasi
b.      Wacana deskripsi
c.       Wacana eksposisi
d.      Wacana argumentasi.
4.      Contoh Wacana sebagai berikut:
Bunga Mawar
mahkota bunga berwarna merah, tersusun saling bertumpuk membentuk lapisan-lapisan. Kelopak bunga berwarna hijau berada tepat di bawah mahkota bunga.  Bunga disangga oleh batang yang tegak lurus, menempel dan menjadi satu dengan kelopak bunga, dengan warna hijau kecoklatan. batang bunga sebagai penyangga, di lindungi oleh duri-duri yang jarang pada sisi-sisinya.





PERSYARATAN WACANA DALAM LINGUISTIK
Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)
1.     Persyaratan Terbentuknya Wacana
                Pembahasan berikutnya adalah mengenai persyaratan terbentuknya wacana. Setelah mengetahui pengertian-pengerti awacana dari para ahli, maka persayaratan wacana juga akan diketahui. Misalnya saja dari Tarigan (2009: 19) yang menyebutkan wacana ialah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan dan tertulis. Dari pengertian ini sudah diketahui bahwa wacana memiliki syarat dari ungkapan “dengan koherensi dan kohesi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata,” dapat ditemukan syarat, yakni koherensi dan kohesi.
Akan tetapi itu saja tidak cukup untuk memenuhi syarat dari terbentuknya wacana. Oka dan Suparno (1994: 260-270) menyebutkan jika wacana akan terbentuk bila memenuhi tiga syarat pokok, yakni topik, tuturan pengungkap topik, serta kohesi dan koherensi. Sedangkan menurut Widowson (1978:22) wacana mempunyai dua hal penting, yaitu proposisi (sejajar dengan topik) dan tindak tutur (tuturan pengungkap topik).
Berikut ini penjabaran beberapa hal yang menjadi prasyaratan wacana.
1.      Topik.
Sebuah wacana mengungkapkan satu bahasan atau gagasan. Gagasan tersebut akan diurai, membentuk serangkaian penjelasan tetapi tetap merujuk pada satu topik. Sehingga topik yang diangkat atau yang dimaksud memberikan suatu tujuan. Tujuan-tujuan yang teradapat dalam wacana, dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis wacana. Seperti wacana persuasif, tujuannya untuk mempengaruhi pembaca. Atau bisa berupa simbol huruf P pada rambu-rambu lalu lintas, memberikan tujuan menginformasikan pengguna jalan, bahwa tempat bersimbol P, adalah tempat parkir.
2.      Kohesi dan Koherensi
Sebuah wacana biasanya ditata secara serasi dan ada kepaduan antara unsur yang satu dengan yang lain dalam wacana (kohesi), sehingga tercipta pengertian yang baik (koherensi). Unsur kohesi tersebut misalnya dicapai dengan hubungan sebab-akibat, baik antarklausa maupun antarkalimat (Depdikbud, 1988:343-350). Kekohesifan dalam suatu wacana dapat diperoleh dari penggunaan dalam memadukan beberapa aspek  gramatikal (seperti; konjungsi, elipsi, kata ganti, dan lain-lain), aspek semantik, dan aspek kebahasaan lainnya.
3.      Proporsional
Prosorsional yang dimaksud ialah keseimbangan dalam makna yang ingin dijabarkan dalam wacana, atau makna yang terdapat dalam wacana, ialah seimbang. Misalnya apabila sebuah wacana persuasif, wacana yang mempengaruhi pembaca untuk membeli suatu produk, maka dalam wacana tersebut harus terdapat kesinambungan yang tepat antara paragraf yang satu dengan yang lain. apabila paragraf pertama terdapat beberapa tuturan yang mempengaruhi pembaca dengan satu topik, maka paragraf kedua juga harus tetap meruju pada satu topik dan dimungkinkan lebih merujuk pada hal yang khusus. Sehingga antara paragraf yang satu dengan yang lain padu dan tidak membingungkn pembaca.
4.      Tuturan
Tuturan yang dimaksud adalah pengungkapan suatu topik yang ada dalam wacana. Baik tutur tulis atau tutur lisan. tuturan kaitannya menjelaskan suatu topik yang terdapat dalam wacana dengan tetap adanya kohesi dan koherensi yang proporsional di dalamnya.
Setelah diketahui beberapa persyaratan wacana, berikut ini terdapat beberapa contoh wacana.
1.       Wacana berbentuk tulisan
Wacana argumentasi
Wacana argumentasi adalah wacana yang bertujuan untuk mempengaruhi pembaca agar bisa menerima pendapat, ide, ataupun pernyataan yang dikemukakan oleh penulisnya. Untuk memperkuat pendapat atau idenya itu, penulis wacana argumentasi biasanya menyertakan data-data pendukung. Tujuannya, agar pembaca menjadi semakin yakin atas kebenaran yang telah disampaikan penulis.
Berikut sedikit contoh kutipan wacana argumentasi
Menyetop bola menggunakan  dada dan kaki dapat ia lakukan dengan sempurna. Tembakan kaki kanan serta kaki kirinya tepat dan keras. Sundulan yang dihasilkan dari kepalanya sering memperdaya kiper lawan. Bola seolah-olah menurut kehendak dirinya. Larinya sangat cepat bagaikan kijang. Menjadikan lawan sukar mengambil bola diantara kakinya. Operan bolanya akurat dan terarah. Amin benar-benar pemain bola profesional.
Tujuan yang ingin di capai melalui argumentasi tersebut, antara lain :
  • Melontarkan pandangan / pendirian
  • Mendorong atau mencegah
  • Mengubah tingkah laku pembaca
  • Menarik simpati
Hal-hal yang memenuhi persyaratan wacana:
1.      Terdapat tujuan yang mengarah ke topik
2.      Kohesi dan koherensi padu membetuk proporsional ketika dibaca
3.      Terdapat tuturan yang merujuk pada satu objek, yaitu “Amin benar-benar pemain bola profesional”

2.      Wacana berbentuk lambang atau simbol
Simbol P

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1SYR0pM4iv9RRje2G8OSjKLq11WsnJKa-YcugL9pxYLyDT7XyfvEotsFcaH9vLJRjwbw_S03X_5a7m1DPHK5HT_LlTWPibr3HnJUy6hePmh7bdjwXvyDEEFiDOW8x8A9fmA5nKUuyAwtm/s1600/arti+rambu+lalu+lintas.jpg

“Jika kita melewati suatu jalan raya, entah itu tujuannya untuk ke sekolah, kantor, pasar, atau tempat lainnya, tentu kita sering melihat adanya rambu-rambu lalu lintas di kedua sisi jalan tersebut. Menurut Wikipedia, rambu lalu lintas adalah salah satu alat perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang, huruf, angka, kalimat dan/atau perpaduan di antaranya, yang digunakan untuk memberikan peringatan, larangan, perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. Agar rambu dapat terlihat baik siang ataupun malam atau pada waktu hujan maka bahan harus terbuat dari material yang reflektif (memantulkan cahaya).”

Persyaratan yang masuk dalam wacana:

1.      Simbol menunjukkan topik

2.      Kohesi dan koherensi dalam penuturan sehingga membentuk penjelasan yang proporsional.




TEKS, KOTEKS DAN KONTEKS

Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)
a.      Pengertian wacana
Harimurti Kridalaksana (1984:204)1 menyatakan bahawa wacana adalah satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki tatabahasa merupakan satuan tatabahasa tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh seperti novel, buku, ensiklopedia, dan sebagainya, paragraf, ayat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Anton M.Moeliono (1995:407)2 mendefinisikan wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat itu. Henry Guntur Tarigan menegaskan bahawa wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.
·         Pengertian teks, ko-teks,dan konteks
Kridalaksana (2011:238) dalam Kamus Linguistiknya menyatakan bahwa teks adalah (1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak, (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran, (3)  ujaran yang dihasilkan dalam interaksi manusia. Dilihat dari tiga pengertian teks yang dikemukakan dalam Kamus Linguistik tersebut dapat dikatakan bahwa teks adalah satuan bahasa yang bisa berupa bahasa tulis dan bisa juga berupa bahasa lisan yang dahasilkan dari interaksi atau komunikasi manusia. Kriteria teks: internal (kohesi dan koherensi), eksternal (intertekstualitas, intersionlitas, informativitas, situasionalitas).
Kridalaksana (2011:134) mengartikan konteks adalah (1) aspek-aspek lingkungan fisik atau sosial yang kait mengait dengan ujaran tertentu, (2) pengetahuan yang sama-sama memiliki pembicara dan pendengar sehingga pendengar paham apa yang dimaksud pembicara.
Keberadaan koteks dalam suatu wacana menunjukkan bahwa struktur suatu teks memiliki hubungan dengan teks lainnya. Hal itulah yang membuat suatu wacana menjadi utuh dan lengkap. Ko-teks dapat menjadi alat bantu untuk menganalisis wacana. Dalam wacana yang cukup panjang sering sebuah kalimat harus dicarikan informasi yang jelas pada bagian kata yang lainnya. Perhatikan contoh berikut ini.
Markusen adalah calon gubernur terkaya di negari ini. Tidak hanya itu, dia juga seorang pengusaha dan mantan seorang dosen di salah satu PT ternama. Selain itu, beliau juga dikenal sangat baik oleh masyarakatnya.

Kata dia, beliau dan –nya yang terdapat pada kalimat kedua dan ketiga di atas mengacu kepada Markusen pada kaliamt pertama. Tafsiran itu didasarkan pada kalimat yang menyatakan bahwa Markusen adalah calon gubernur terkaya di negari ini. Jadi, Markusen pada kalimat itu menjadi koteks bagi dia, beliau dan -nya.

Kedua kalimat di atas memiliki keterkaitan. Kalimat “Selamat Jalan” merupakan ungkapan dari adanya kalimat sebelumnya, yaitu “Selamat Datang”. Kalimat “Selamat Datang” dapat dimaknai secara utuh ketika adanya kalimat sesudahnya, yaitu “Selamat Jalan”, begitu juga sebaliknya. Keberadaan koteks dalam suatu wacana menunjukkan bahwa struktur suatu teks memiliki hubungan dengan teks lainnya. Hal itulah yang membuat suatu wacana menjadi utuh dan lengkap. Ko-teks dapat menjadi alat bantu untuk menganalisis wacana. Dalam wacana yang cukup panjang sering sebuah kalimat harus dicarikan informasi yang jelas pada bagian kata yang lainnya.
Kridalaksana (2011:134) mengartikan konteks adalah (1) aspek-aspek lingkungan fisik atau sosial yang kait mengait dengan ujaran tertentu, (2) pengetahuan yang sama-sama memiliki pembicara dan pendengar sehingga pendengar paham apa yang dimaksud pembicara.
Macam-macam konteks yaitu
·         konteks situasi, ciri-cirinya: pembicara/penulis, pendengar/pembaca, topik pembicaraan, saluran, kode, bentuk pesan, peristiwa, tempat dan waktu.
·         konteks pengetahuan, konteks ini dibagi menjadi 4: konteks lingustik, konteks epistemis, konteks fisik, konteks sosial.





KOHESI DAN KOHERENSI DALAM WACANA

Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)

1.      Kohesi

Kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk secara struktural membentuk ikatan sintaktikal.

Kohesi dibagi menjadi dua yaitu:

                                                             a.      Gramatikal adalah

-          Pengulangan atau repetisi

-          Sinonimi

-          Antonym

-          Hiponim

-          Kolakasi

-          Ekuivalensi

                                                            b.      Leksikal adalah

-          Referensi

-          Subtitusi

-          Ellipsis

-          konjungsi

2.      Koherensi

Koherensi merupakan keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya sehingga kalimat tersebut mempunyai kesatuan makna yang utuh.

 

                                                             a.      Unsur-unsur koherensi

Penambahan                            Penekanan

Kontras                                   Pronomina

Simpulan                                 Sinonimi

Contoh                                                Totalitas Bagian

Paralelisme                              Komparasi

Waktu Repetisi

-          Contoh wacana kohesi

Listrik mempunyai banyak kegunaan. Orang tuaku berlangganan listrik dari PLN. Baru-baru ini tarif pemakaian listrik naik 25%, sehingga banyak masyarakat yang mengeluh. Akibatnya, banyak pelanggan listrik yang melakukan penghematan. Jumlah peralatan yang menggunakan listrik sekarang meningkat. Alat yang banyak menyedot listrik adalah AC atau alat penyejuk udara. Di kantor-kantor sekarang penggunaan alat penyejuk udara itu sudah biasa saja, bukan barang mewah.

-          Contoh wacana koherensi

(a)  Buah Apel ( Apple ) adalah salah satu buah yang sangat tidak diragukan kelezatan rasanya. (b) Menurut beberapa penelitian dibalik kelezatan dari rasa buah apel ternyata juga mengandung banyak zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. (c) Untuk itu sangatlah penting untuk mengkonsumsi buah    apel. (d) Buah Apel memiliki kandungan vitamin, mineral dan unsur lain seperti serat, fitokimian, baron, tanin, asam tartar, dan lain sebagainya. (e) Dengan kandungan zat-zat tersebut buah apel memiliki manfaat yang dapat mencegah dan menanggulangi berbagai penyakit. (f) Berikut ini adalah beberapa manfaat buah apel bagi kesehatan yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber  yaitu buah apel dapat mencegah penyakit asma, dapat mengurangi berat badan,  melindungi tulang, menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker hati, kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus, mengontrol diabetes, membersihkan dan menyegarkan mulut.

 

 

 

 

 






TINDAK TUTUR
Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)
A.    Tindak Tutur Versi Austin
Teori tindak tutur muncul sebagai reaksi terhadap ‘descriptive fallacy’, yaitu pandangan bahwa kalimat deklaratif selalu digunakan untuk mendeskripsikan fakta atau ‘state of affairs‘, yang harus dilakukan secara benar atau secara salah (Malmkjer, 2006: 560). Padahal, menurut Austin, banyak kalimat deklaratif yang tidak mendeskripsikan, melaporkan, atau menyatakan apapun, sehingga tidak bisa dinyatakan benar-salahnya.
Ada dua jenis ujaran, menurut Austin, yaitu:
1.      Ujaran konstantif
            Yaitu ujaran yang tidak melakukan tindakan dan dapat diketahui salah-benarnya. Menurut Austin (1962), ujaran konstantif adalah jenis ujaran yang melukiskan suatu keadaan faktual, yang isinya boleh jadi merujuk ke suatu fakta atau kejadian historis yang benar-benar terjadi pada masa lalu.

2.      Ujaran performatif
Yaitu ucapan yang berimplikasi dengan tindakan si penutur sekalipun sulit diketahui salah-benarnya, tidak dapat ditentukan benar-salahnya berdasarkan faktanya karena ujaran ini lebih berhubungan dengan perilaku atau perbuatan si penutur. Ujaran seperti “Kamu dipecat!”, “Dengan ini Saudara saya nyatakan bersalah” merupakan contoh ujaran performatif.

3.      Prinsip tindak tutur versi austien :
a.       Tindak lokusi
b.      Tindak ilokusi
c.       Tindak perlokusi (Perlocutionary act)

B.     Tindak Tutur Versi Searle
Searle (dalam Rahardi, 2005: 35-36) menyatakan bahwa dalam praktiknya terdapat tiga macam tindak tutur antara lain:
·         Tindak lokusioner.
·         Tindak ilokusioner.
·         Tindakan perlokusi


Variasi dari Segi Penutur

Berikut adalah variasi – variasi dari segi penutur:
1.      Idiolek
2.      Dialek
3.      Kronolek
4.      Sosiolek
5.      Akrolek
6.      Basilek
7.      Vulgar
8.      Slang
9.      Kolokial
10.  Jargon
11.  Argot
12.  Ken
Variasi dari Segi Pemakaian           
            Variasi bahasa bidang pemakaain ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan apa, bidang apa, misalnya, sastra, jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekeonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan.  Variasi bahasa sastra menekankan estetis, variasi bahasa jurnalistik bersifat sederhana, ringkas, padat, dan komunikatif. Variasi bahasa militer bersifat ringkas dan tegas.
Variasi dari Segi Keformalan
Berdasarkan tingat keformalannya, Martin Joos (1967) membagi variasi bahasa atas lima macam.
a.       Ragam Beku  
b.      Ragam Resmi
c.       Ragam Usaha atau Ragam Konsultatif
d.      Ragam Santai atau Ragam Kasual
e.       Ragam Akrab atau Ragam Intim



 


PRAANGGAPAN, IMPLIKATUR, INFERENSI, DAN DEIKSIS
Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)

Nababan (1987:46), memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur.
Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut :
a : “Aku sudah membeli bukunya Pak Udin kemarin”
b : “Dapat potongan 30 persen kan?”
Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur (a) memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo.
1.      Jenis-jenis Praanggapan
v  Presuposisi Esistensial
Presuposisi (praanggapan) eksistensial adalah preaanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definit.
v  Presuposisi Faktif
Presuposisi (praanggapan) faktif adalah praanggapan di mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai suatu kenyataan.
v  Presuposisi Leksikal
Presuposisi (praanggapan) leksikal dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan) dipahami.

v  Presuposisi Non-faktif
Presuposisi (praanggapan) non-faktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar.
v  Presuposisi Struktural
Presuposisi (praanggapan) struktural mengacu pada sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya.
v  Presuposisi konterfaktual
Presuposisi (praanggapan) konterfaktual berarti bahwa yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan.
2.      IMPLIKATUR
Konsep implikatur  kali pertama dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memcahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah (Brown dan Yule 1983:1). Makna tersirat (implied meaning) atau implikatur adalah makna atau pesan yang tersirat dalam ungkapan lisan dan atau wacana tulis. Kata lain implikatur adalah ungkapan secara tidak langsung yakni makna ungkapan tidak tercermin dalam kosa kata secara literal. Dalam pemakaian bahasa terdapat implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang ditentukan oleh ‘arti konvensional kata-kata yang dipakai’.
3.      INFERENSI
Inferensi adalah proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca untuk memahami makna secara harfiah tidak terdapat dalam wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis, yaitu dengan membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur). Untuk menarik sebuah kesimpulan (inferensi) perlu kita mengetahui jenis-jenis inferensi.

4.      DEIKSIS
Deiksis adalah kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan (Agustina, 1995:40). Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi sipembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.










JENIS-JENIS WACANA
Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)
A.    Jenis Wacana Berdasarkan Media Penyampaiannya ( menurut Tarigan)
a.       Wacana Lisan
Jauh sebelum manusia mengenal huruf,bahasa telah digunakan oleh manusia.manusia memakai bahasa lisan dalam berkomunikasi.bahasa lisan menjadi bahasa yang utama dalam hidup manusia karena lebih dahulu dikenal dan digunakan oleh manusia dari pada bahasa tulis.karena itu tidaklah mengherankan bahwa sebagian besar manusia masih berada dalam budaya lisan.
Karena sering digunakan,bahasa lisan memiliki ciri – ciri yang berlainan dengan bahasa tulis .Salah satunya yang menonjol adalah sering terjadi penghilangan bagian – bagian tertentu,yang dapat menghilangkan pengertian wacana ,jika salah satu partisipanya ( pembicara dan pendengar ) belum terbiasa seperti pada contoh berikut :
 wati : “Nunung, ke mana?”
Nunung : “Biasa”.
Pada wacana diatas wati dapat mengetahui bahwa nunung akan pergi,misalnya kewarung untuk makan roti panggang ,karena pada saat seperti ini kebiasaan nunung makan roti panggang diwarung x . Bagi orang lain yang belum mengenal kebiasaan nunung,wacana diatas tidak dapat dimengerti . Ia tidak dapat menarik kesimpulan yang tepat .Pertama,Karena ia mengetahui bahwa tidak ada lokasi yang bernama “Biasa”tidak mengacu kepada suatu tempat yang pasti dan  kedua,ia belum mengenal kebiasaan atau memiliki “Pengetahuan yang telah diketahui bersama “ ( Common ground ) dengan nunung.
Manusia lebih sering menggunakan wacana lisan yang pendek .Satuan – satuan atau unit – unitnya pun pendek dan kadang tidak gramatikal[1], seperti percakapan nunung dan wati diatas.Jarang ditemukan wacana lisan yang panjang .Kalaupun ada,biasanya maknanya terus menerus diulang,seperti dalam mengungkapkan kekesalan hati.
Dalam mengutarakan maksud dengan wacana lisan,tidak hanya unsur bahasa tetapi juga digunakan gerakan tubuh,pandangan mata ,dan lain – lain,yang turut memberi makna wacana itu .
Jika pengutaraan maksud memakan waktu yang cukup lama,diperlukan adanya daya simak yang tinggi dari partisipan lainya.
Contoh : perkuliahan memerlukan perhatian dan daya simak mahasiswa untuk menangkap inti perkuliahan yang diujarkan dosen.Karena konsentrasi dan daya simak seseorang tidak dapat bertahan terus menerus dalam waktu yang lama,maka perkuliahan menggunakan juga alat untuk wacana tulis agar inti materi perkuliahan dapat diingat oleh mahasiswa.
Kelemahan wacana lisan adalah kesulitan dalam mengulang kembali wacana dengan sama tepat seperti yang pertama.Kelemahan wacana ini jga menyebabkan wacana lisan,sebagai bahan bukti,dalam bidang hukum memiliki kedudukan yang paling lemah disbanding wacana tulis.
Dengan uraian diatas dapat dibuat ciri – ciri wacana lisan sebagai berikut :
a.       Wacana lisan memerlukan daya simak yang tinggi agar interaksi tidak terputus
b.      Wacana lisan sulit diulang,dalam arti mengulang hal yang sama dengan ujaran pertama
c.       Wacana lisan dapat dilengkapi dengan gerakan anggota tubuh untuk memperjelas makna yang dimaksud
d.      Wacana lisan menyatukan partisipanya dalam satu situasi dan konteks yang sama.
e.       Wacana lisan biasanya lebih pendek daripada wacana tulis
f.       Wacana lisan juga melibatkan unsure kebiasaan atau pengetahuan yang telah diketahui bersama (common ground) ,yang ada pada satu keluarga atau kelompok dan
g.      Wacana lisan sering melibatkan partisipanya secara langsung.
b.      Wacana Tulis
Wacana tulis mulai dikenal setelah ditemukan huruf,Huruf dibuat untuk mengganti peran bunyi bahasa sehingga biasanya orang mengatakan bahwa huruf adalah lambang bunyi.Huruf – huruf itu dipelajari manusia dan kemudian digunakan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain yang tinggal berjauhan.
Meskipun banyak wacana tulis yang panjang,ada juga wacana tulis yang pendek,wacana seperti ini banyak dijumpai di iklan ,distasiun kereta api ,diswalayan ,dan dijalan .
Contoh:
a.       Pintu keluar
b.      Semua kopi hitam sama,soal rasa ayam merak
c.       Awas! tegangan tinggi !
d.      Kocok dulu sebelum diminum
Wacana tulis yang pendek, seperti diatas sangat mirip dengan wacana lisan,seperti penghilangan bagian tertentu dari wacana itu,penyatuan saat dan tempat yang sama bagi penulis dan pembaca,dan penggunaan bentuk – bentuk informal.
Dari uraian diatas dapat dibuat ciri –ciri sebagai berikut :
a.    Wacana tulis biasanya panjang dan menggunakan bentuk bahasa yang baku
b.    Wacana tulis dapat dilihat kembali tanpa ada perbedaan unit – unit kebahasanya
c.    Wacana tulis biasanya mempunyai unsur kebahasan yang lengkap ( Tidak ada penghilangan bagian – bagianya).

B.     Jenis Wacana Berdasarkan Jumlah Penutur
1.      Wacana Monolog
Adalah wacana yang disampaikan oleh seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara langsung. Umumnya, wacana monolog tidak menghendaki dan tidak menyediakan alokasi waktu terhadap respon pendengar atau pembacanya. Wacana monolog bersifat searah dan termasuk komunikasi tidak interaktif (noninteractive communication). Wacana monolog terjadi seperti pada orasi ilmiah, khotbah, dan penyampaian visi dan misi. Pada kenyataannya, dalam suatu orasi, ceramah, atau pidato tertentu, penutur secara improvisasi kadang-kadang justru mencoba berinteraksi dengan pendengarnya. Cara yang dipakai, misalnya dengan melontarkan pertanyaan, “Bagaimakah sikap kita untuk andil dalam pembangunan pendidikan bangsa ini?”. Dalam konteks seperti ini, wacana monolog berubah menjadi wacana semi-monolog.
Contoh :
(1) Siapa bilang remaja Indonesia cengeng? (2) banyak  yang berprestasi di forum Internasional, walaupun minim fasilitas. (3) Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir kita membawa pulang puluhan medali dalam berbagai olimpiade dunia. (4) ada matematika, fisika, biologi, kimia, juga astronomi, komputer.

1)      Kalimat  nomor 2 merupakan   jawaban  terhadap pertanyaan  kalimat nomor 1 yang menyanggah bahwa remaja Indonesia  tidak cengkeng.
2)      kalimat nomor 3 merupakan pembuktian dari kalimat nomor 2.
3)      kalimat ke 4 merupakan contoh-contoh yang menguatkan kalimat nomor 2 dan 3.

2.      Wacana Dialog
Adalah percakapan yang dilakukan oleh dua orang secara langsung. Wacana dialog bersifat dua arah, dan masing-masing partisipan secara aktif ikut berperan didalam komunikasi, sehingga disebut komunikasi interaktif (interactive communication). Wacana dialog terjadi seperti pada peristiwa diskusi, musyawarah, pembicaraan telepon, Tanya jawab, dan teks drama.
Perhatikan contoh wacana dialog berikut ini.
SUNSLIK GINGSENG
C  : Betulkan ?
W : Iya
C  : Aku paling sebel deh kalau cowokku naksir cewek yang lain.
W : Cowokku dulu juga gitu. Dia itu suka melirik cewek yang rambutnya panjang. Padahal dulu aku takut manjangin rambut. Takut patah-patah dan rontok. Sunslik gingseng membuat rambut semakin kuat tumbuh sepanjang yang kamu suka.
C  : Sekarang rambut kamu sudah panjang ?
W : Ya
C  : Berarti cowok kamu sudah tidak lirik-lirik lagi dong ?
W : Cowokku si ndak, cowok-cowok yang lain pada lirik aku

Wacana tersebut merupakan wacana dialog antara dua orang gadis. Mereka sedang berdialog mengenai rambut. Setelah menggunakan sunslik gingseng rambut menjadi kuat dan tidak rontok.

3.      Wacana Polilog
Adalah pembicaraan atau percakapan yang melibatkan partisipan pembicaraan lebih dari dua orang penutur. Partisipan yang terlibat dalam pembicaraan semuanya berperan aktif dan langsung dalam komunikasi. Wacana polilog terjadi seperti pada peristiwa musyawarah, diskusi, atau debat, dan teks drama.

Perhatikan contoh wacana polilog yang dikutip dari teks drama berjudul Orkes Madun I karya Arifin C Noer berikut ini.
Konteks      : kehadiran Waska disambut gembira oleh komunitasnya. Waska  dijadikan tempat mengadu bagi Tarkeni yang sedang berselisih dengan Madekur, suaminya.

WASKA   : Peran Waska akan tampil memberi ruh pada jasadku yang lunglai kecapean yang kosong yang gosong yang bagai kepompong.
KOOR         : Uuuuuuuuuuu
WASKA  : Langit hanya berisi angin hari itu dan warna hitam Tumpah diseanteronya dimana – mana dan aku Waska sedang minum air kelapa.
TARKENI : Lalu aku Tarkeni datang menangis bersujud di kaki Waska mengadukan ihwal duka.
WASKA     : Ada apa anakku? Kenapa menangis seperti itu?
TARKENI   : Sakit kepalaku sampai ke kalbu lantaran dipukul suamiku.
WASKA     : Madekur!!!!!
MADEKUR : Madekur luka hatinya disobek – sobek cemburu oleh cemburu buta.
WASKA     : Yak karena tidak matang  jiwanya.
(Orkes Madun I : 663-664)
Wacana tersebut merupakan wacana polilog, yakni percakapan atau pembicaraan yang melibatkan lebih dari dua orang (tokoh) sebagai partisipan pembicaraan. Tokoh Tarkeni mengadukan nasibnya kepada tokoh Waska, karena ia dipukul oleh Madekur, suaminya, yang sedangkan dibakar rasa cemburu. Kemudian Waska mencoba mendamaikan Tarkeni dan Mardekur sebagai pasangan suami istri.


JENIS-JENIS WACANA
Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)
A.     Uraian Wacana Narasi, Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi, dan Persuasi
1.      Wacana Narasi
·      Pengertian
     Narasi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu ( Keraf: 2010). Keraf juga mengatakan unsur terpenting dalam narasi adalah unsur tindakan atau perbuatan. Namun sebagai pembeda dengan wacana deskripsi, maka harus ditambahkan unsur kronologi atau rangkaian waktu.
Wacana narasi adalah salah satu jenis wacana yang berusaha menceritakan/ mengisahkan suatu kejadian yang terjadi dalam suatu rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu secara kronologis.     
·      Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi adalah:
a.       Kejadian
b.      Tokoh
c.       Konflik
d.       Alur/ plot
e.       Latar yang terdiri atas latar waktu, tempat, dan suasana
·      Ciri- cirinya
a.       Berupa cerita tentang peristiwa atau pengalaman penulis
b.      Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya
c.       Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik
d.      Memiliki nilai estetika
e.       Menekankan susunan secara kronologis



2.      Wacana Deskripsi
·      Pengertian
     Wacana deskripsi adalah satuan jenis wacana yang menggambarkan suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulisnya. Untuk mencapai kesan yang sempurna bagi pembaca, penulis merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan.
     Dilihat dari sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu :
a)      Deskripsi Imajinatif/ Impresionis
o   Pengertian
Merupakan deskripsi yang menggambarkan objek benda sesuai kesan/imajinasi si penulis. Pengertian lain tentang deskripsi impresionis yaitu  ialah ragam pemaparan yang didasarkan pada impresi (kesan atau perasaan) penulis terhadap peristiwa, kejadian, tempat, perbuatan, karakter, dll.
Hal ini didasarkan pada kuat lemahnya kesan yang didapat dari objek.
Contoh : Deskripsi mengenai kota Malang yang dingin, sejuk, dan segar. Banyak objek wisata yang menyenangkan di sana. Wahananya pun seru-seru dan asyik-asyik.
o   Contoh Deskripsi Imajinatif
Aku tidak lagi berada di kamarku, tetapi di suatu ruangan bersama-sama dengan sekelompok orang yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya. Bau asap tembakau memenuhi ruangan itu, tapi tak seorang pun yang kelihatan peduli. Kami semua duduk di kursi yang diatur membentuk sebuah lingkaran, mirip dengan ruangan diskusi. Semua tampak duduk tenang, semua kelihatan sedang menulis, dan tidak seorang pun yang kelihatan peduli pada orang lain di ruangan itu.

3.      Wacana Eksposisi
·      Pengertian
     Wacana eksposisi adalah satuan jenis wacana yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya.
     Wacana  eksposisi biasanya digunakan pada karya-karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah-makalah untuk seminar, simposium, atau penataran. Tahapan menulis wacana eksposisi, yaitu menentukan objek pengamatan, menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi, mengumpulkan data atau bahan, menyusun kerangka wacananya, dan mengembangkan kerangka wacana menjadi karangan.
     Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola penyajian urutan topik yang ada dan urutan klimaks dan antiklimaks.
·      Ciri-ciri atau karakteristik karangan eksposisi
a.       Menjelaskan informasi agar pembaca mengetahuinya
b.      Menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (data aktual)
c.       Tidak terdapat unsur memengaruhi atau memaksakan kehendak
d.      Menunjukkan analisis atau penafsiran secara objektif terhadap fakta yang ada
e.      Menunjukan sebuah peristiwa yang terjadi atau tentang proses kerja sesuatu
·      Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu sebagai berikut :
a.       Menentukan objek pengamatan
b.      Menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi
c.       Mengumpulkan data atau bahan
d.      Menyusun kerangka karangan,
e.       Mengembangkan kerangka menjadi karangan.
4.      Wacana Argumentasi
·      Pengertian
     Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Gorys Keraf: 2010). Melalui argumentasi penulis atau pembicara ingin menunjukkan sesuatu hal dianggap benar atau salah dengan didukung fakta-fakta.
Wacana argumentasi adalah satuan jenis wacana yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang logis. 
     Tujuan wacana argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran pendapat pengarang. Gorys Keraf (2010:100) menerangkan, untuk membuktikan suatu kebenaran, argumentasi mempergunakan prinsip-prinsip logika.
     Tahapan menulis karangan argumentasi, yaitu menentukan tema atau topik permasalahan, merumuskan tujuan penulisan, mengumpulkan data atau bahan berupa : bukti-bukti, fakta, atau pernyataan yang mendukung, menyusun kerangka karangan, dan mengembangkan kerangka menjadi karangan.
     Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebab-akibat, akibat-sebab, atau pola pemecahan masalah.
·      Ciri Paragraf Argumentasi
a.       Ada pernyataan, ide, atau pendapat yang dikemukakan penulisnya
b.      Ada alasan, data, atau fakta yang mendukung
c.       Pembenaran berdasarkan data dan fakta yang disampaikan.
           Data dan fakta yang digunakan untuk menyusun wacana atau paragraf argumentasi dapat diperoleh melalui wawancara, angket, observasi, penelitian lapangan, dan penelitian kepustakaan. Pada akhir paragraf atau karangan perlu disajikan kesimpulan.
·      Tahapan menulis karangan argumentasi, sebagai berikut.
a.       Menentukan tema atau topik permasalahan
b.      Merumuskan tujuan penulisan
c.       Mengumpulkan data atau bahan berupa: bukti-bukti, fakta, atau pernyataan yang mendukung
d.      Menyusun kerangka karangan
e.       Mengembangkan kerangka menjadi karangan.
·      Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Membuat Karangan Argumentasi
a.       Berpikir sehat, kritis, dan logis
b.      Mencari , mengumpulkan, memilih fakta yang sesuai dengan tujuan dan topik
c.       Menjauhkan emosi dan unsure subjektif
d.      Menggunakan bahasa secara baik dan efektif                            
5.      Wacana Persuasi
·      Pengertian
     Dalam buku Gorys Keraf (2010:118) ia mengemukakan persuasi adalah suatu seni verbal yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pembicara pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang. Karena tujuan terakhir adalah agar pembaca atau pendengar melakukan sesuatu, maka persuasi dapat dimasukkan dalam cara-cara mengambil keputusan.
     Paragraf persuasi adalah bentuk karangan yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang, baik pembaca maupun pendengar agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Salah satu bentuk paragraf persuasi yang dikenal secara umum adalah propaganda yang dilakukan berbagai badan, lembaga, atau perorangan.
     Isi paragraf mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi atau mengajak pembaca. Paragraf persuasif banyak dipakai dalam penulisan iklan,terutama majalah dan Koran .
·      Contoh 1
     Marilah kita membuang sampah pada tempatnya, agar lingkungan kita bebas dari banjir dan bebas dari penyakit yang disebabkan oleh sampah – sampah yang di buang tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, perlu kesadaran pada diri kita masing – masing untuk membuang sampah pada tempatnya.


Analisis Wacana Berdasarkan Pendapat Van Djik
Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)
1.      Hakikat Wacana Menurut Teun A Van Djik dalam Dharma (2009: 23)
No

Nama Metode
Demensi Teoritis
(Sebuah Abstraksi)
Penggunaan sebagai Metode Analisis Wacana

Analisis  Framing (Sobur, 2001; Erianto, 2002; Hamad, 2004; Van Djik, 1988) dalam Darma, 2008:23.
Teori farming berbicara tentang seleksi isu yang dimasukkan ke atau dikeluarkan dari wacana. Menurut analisis farming, dalam wacana berlangsung proses pemilihan fakta mana yang mau diangkat, fakta mana yang mau disembunyikan, atau fakta mana dihilangkan sama sekali. Wacana menurut farming terdiri dari sejumlah komponen yang di isi dengan fakta-fakta pilihan itu.
Terdapat beberapa varian analisis farming. Cara menganalisiswacanadengan farming adalahmemenuhisetiapkomponenfarming  denganfakta (bagiannaska) yang terdapatdalamsuatunaska.
-komponen Farming Gamsondan Modigliani: Metaphors, Exemplars, Catchpharases, Depictions, Visual images, Roots, Consequences, danappleals to principals.
-komponen farming VnDjik: Summary (Headline lead); story (situa-tionand  comments). Situation (episode and background); commend (verbal reaction  and conclusions). Episode (main evets and consequences). Background (context and history). History (circumstances and prevoous events). Conclusion (expectations and evaluations).


A.    Cara Analisis Wacana Menurut Teun A Van Djik
Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat.Ada tiga pandangan mengenai analisis wacana. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal). Disebut Analisis Isi (kuantitatif)
Pandangan kedua disebut  konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. Disebut  Analisis Framing (discourse analysis).
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).
Analisis wacana model van Dijk sering disebut ”kognisi sosial” nama pendekatan semacam ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik analisis wacana model van Dijk. Menurut van Dikj penelitian  wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari praktik produksi yang harus diamati. Disini patut dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi. Sehingga kita dapat memperoleh suatu pengetahuan tentang kenapa suatau teks bisa semacam itu. Kalau ada teks yang memarjinalkan wanita, maka dibutuhkan suatu penelitian yang melihat bagaimana produksi teks itu bekerja, kenapa teks tersabut memarjinalkan wanita. Proses pendekatan dan produksi ini melibatkan suatu yang disebut kognisi sosial.
Berbagai masalah kompleks dan rumit itulah yang dicoba digambarakan oleh van Dijk. Oleh karenanya van Dijk tidak mengeksklusi modelnya hanya semata menganalisis teks. Tapi ia juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan berpengaruh pada teks. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempuyai tiga dimensi, diantaranya : teks, kognisi sosial, dan kontek sosial (analisis sosial). Dalam dimensi teks yang dianalisis bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari bagaimana proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari komunikator. Sedangkan, aspek analisis sosial mempelajari bagunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Namun dalam penelitian ini hanya memfokuskan pada dimensi teks dan analisis sosial.

a.      Teks
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa bagian struktur yang masing-masing saling mendukung. Ia dalam hal ini membaginya dalam tiga tingkat. Pertama, struktur makro, ini merupakan makna global atau umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu teks. Kedua, superstruktural yaitu merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks. Bagaimana bagian-bagian teks tersusun kedalam berita secara utuh. Ketiga, struktur mikro adalah makna wacana yang diamati dari bagian terkecil dari suatu teks semisal, kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar.

b.      Kognisi Sosial
Dalam kerangka analisis Van Djik pentingnya kognisi sosial yaitu kesadaran mental penulis yang membentuk teks tersebut karna setiap teks pada dasarnya dihasilkan lewat kesadaran, pengetahuan, prasangka, dan pengetahuan tertentu atas suatu peristiwa. Disini seorang penulis tidak dianggap sebagai individu yang netral tapi individu yang memiliki berbagai nilai, pengalaman, dan pengaruh ideologi yang didapat dari kehidupannya. Peristiwa dipahami berdasarkan skema atau model.

c.       Konteks Sosial
Konteks sosial yaitu, bagaimana wacana komunikasi diproduksi dalam masyarakat. Titik pentingnya adalah untuk menunjukan bagaimana makna dihayati bersama, kekuasaan sosial diproduksi lewat praktik diskursus dan legitimasi. Ada dua poin yang penti yaitu, praktik kekuasaan (power dan akses (acces)).


ANALISIS WACANA MENURUT PARA AHLI
Oleh : Kris Wahyuningsih PBSI 2013A (136830)

A.    Hakikat Analisis Wacana menurut Para Ahli
Analisis wacana merupakan telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Menghindari subjektifitas dan bias dari peneliti, maka diacu pula pendapat dari Stubs dan Cook. Stubs mengatakan, analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Penggunaan bahasa secara alamiah tersebut berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari-hari. Selanjutnya, Stubs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankan kajian penggunaan dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antar-penutur. Senada dengan pendapat Stubs, Cook menyatakan bahwa analisis wacana merupakan kajian yang membahas tentang wacana, sedangkan wacana merupakan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi (Badara, 2012: 18).
Suwandi (2008:145) mengemukakan bahwa analisis wacana pada hakikatnya merupakan kajian tentang fungsi bahasa atau penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi.Analisis wacana juga berkaitan dengan kajian interdisipliner, seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, dan filsafat bahasa (Oka dan Suparno, 1994:263). Kaitan ini dapat diterima karena analisis wacana berkembang sedemikian rupa, sehingga keberadaannya memang melibatkan beberapa kajian lain. Para sosiolinguis memperhatikan yang berhubungan dengan interaksi sosial, terkait pula dengan penggunaan bahasa di masyarakat.
Para ahli psikolinguistik menganalisis wacana dari segi pemahaman ujaran, cara memproduksi dan menggunakan bahasa, dan pemerolehan bahasa. Para ahli filsafat bahasa mengkaji wacana dari segi semantik wacana dan unsur wacana dalam kaitannya dengan konstruksi ujaran dalam pasangan-pasangan.Analisis wacana meletakkan titik berat pada fungsi bahasa sebagai alat interaksi antara penulis dan pembaca atau antara pembicara dan pendengar (Wahab, 1998:69).Analisis wacana juga dipandang sebagai studi tentang struktur pesan dalam komunikasi (Sobur, 2002:48).
Jadi, fungsi bahasa sebagai alat komunikasi semakin tampak terwadahi dengan adanya analisis wacana.Pada pokoknya, para analis wacana memikirkan datanya sebagai rekaman proses yang dinamis, di mana bahasa dipergunakan sebagai alat komunikasi dalam suatu konteks oleh seorang penulis atau seorang penutur untuk menyatakan buah pikirannya dan menyampaikan maksudnya (Wahab, 1998:56).

B.     Pandangan tentang Analisis Wacana
Analisis wacana merupakan istilah umum yang banyak dipakai dari berbagai disiplin ilmu dan dengan berbagai paradigma/pandangan.Ada tiga pandangan mengenai bahasa, yakni sebagai berikut.
a.       Pandangan pertama, diwakili oleh kaum positivisme-empiris/strukturalis menyatakan bahwa bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala. Pernyataan yang logis, sintaksis dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris.
b.      Pandangan kedua, yang diwakili oleh kaum konstruktivisme/ fungsionalis. Aliran ini dipengaruhi oleh fenomenologi yang menolak pandangan positivism-empiris tentang subjek dan objek bahasa dipisahkan. Aliran konstruktivisme memandang bahasa tidak lagi dipahami sebagai realitas objek belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan. Konstruktivisme memandang justru subjek sebagai sentral utama dalam kegiatan wacana. Bahasa dipahami sebagai pernyataan yang dihidupkan dengan tujuan tertentu.
c.       Pandangan kritis, pandangan ini mengoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitive pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Analisis wacana dalam pandangan ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna.


C.    Strategi dalam Analisis Wacana
Dalam pokok bahsan ini, Jorgensen dan Phillips (2007: 267-270) menyajikan empat strategi yang bisa digunakan dalam analisis wacana dengan berbagai pendekatan.Keempat strategi tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Pembandingan
Yakni membandingkan dengan teks-teks lain secara teoritis didasarkan pada sudut pandangan strukturalis.

2.      Subtitusi
Yakni bentuk pembandingan analis menciptakan teks sebagai pembandingnya.Dalam strategi ini kita bergerak kea rah berlawanan dengan menyisipkan beberapa kata yang dipilih ke dalam teks, kita mendapatkan kesan bagaimana kata-kata itu mengubah makna teks dan dengan demikian kita memperoleh kesan bagaimana kata-kata yang benar dipilih itu menciptakan makna-makna tertentu dalam teks bersangkutan.

3.      Membesar-besarkan sesuatu yang terperinci
Kita bisa membesar-besarkan sesuatu yang terperinci tersebut dan kemudian menanyakan kondisi-kondisi apa yang diperlukan agar ciri tersebut masuk akal dan tentang interpretasi apa yang sekiranya secara keseluruhan cocok dengan ciri tersebut.

4.      Vokalitas ganda
Menggambarkan logika kewacanaan atau suara-suara yang berbeda dalam teks.Strategi ini didasarkan pada premis analisis wacana tentang antartekstualitas.